Example floating
Example floating
Example 728x250
Sosial dan UmumSPKT

Penipuan Investasi Bodong Masih Mengintai Pengguna Media Sosial

108
×

Penipuan Investasi Bodong Masih Mengintai Pengguna Media Sosial

Sebarkan artikel ini

Media sosial telah mengubah banyak aspek kehidupan manusia, dari cara berinteraksi hingga bagaimana orang mencari peluang finansial. Sayangnya, platform yang awalnya bertujuan mempererat koneksi justru kini dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan untuk melancarkan berbagai modus penipuan. Salah satu yang paling marak dan meresahkan adalah investasi bodong yang menyebar luas melalui akun-akun media sosial, menarget siapa saja tanpa pandang usia, profesi, atau latar belakang ekonomi.

Penipuan ini sering kali dikemas dengan sangat rapi. Pelaku membuat akun dengan tampilan profesional—lengkap dengan logo, portofolio, grafik keuntungan, hingga testimoni dari “investor sukses”. Mereka menyasar pengguna yang tengah mencari informasi seputar keuangan atau bisnis. Sering kali, penawaran ini muncul sebagai iklan berbayar di Facebook, Instagram, TikTok, atau bahkan di kolom komentar sebuah postingan yang sedang viral.

CALL CENTER
Example 300x600
Kapolres Pangandaran

Dengan memanfaatkan algoritma dan kata kunci, penipu bisa menyasar target yang tepat: orang yang sedang mencari tambahan penghasilan, korban PHK, mahasiswa dengan semangat memulai bisnis, bahkan ibu rumah tangga yang ingin mandiri secara finansial. Janji keuntungan tinggi dalam waktu cepat menjadi senjata utama mereka. Kalimat seperti “uang kerja, bukan uang diam”, “cuan tiap minggu tanpa repot”, atau “keuntungan 20% per bulan dijamin” menjadi pemikat utama.

Modus ini biasanya melibatkan sistem deposit dana dengan iming-iming profit harian atau mingguan. Pada awalnya, korban memang benar-benar menerima sejumlah keuntungan kecil. Ini adalah strategi umum yang disebut “grooming”, di mana pelaku membuat korban merasa percaya dan nyaman, sehingga berani menyetorkan dana dalam jumlah lebih besar. Namun, setelah nominal mencapai titik tertentu, pelaku menghilang. Website atau aplikasi investasi tidak bisa diakses, admin grup menghilang, dan semua kontak tiba-tiba tidak aktif.

Dalam beberapa kasus, penipuan investasi bodong di media sosial ini juga mengandung unsur multi-level marketing (MLM) ilegal. Korban diajak untuk merekrut anggota baru agar bisa mendapatkan bonus tambahan. Artinya, selain menjadi korban, mereka tanpa sadar ikut menjadi bagian dari jaringan penipuan yang merugikan lebih banyak orang. Ini adalah bentuk lanjutan dari skema piramida yang sudah dilarang di banyak negara, termasuk Indonesia.

Lebih menyedihkan lagi, banyak dari para korban ini sudah menjual aset, menggadaikan barang berharga, atau bahkan meminjam uang dari keluarga dan pinjaman online demi bisa ikut “peluang emas” yang ditawarkan. Ketika kenyataan pahit datang, dampaknya bukan hanya pada kondisi finansial, tetapi juga mental dan hubungan sosial. Rasa malu, kecewa, dan trauma sering membuat korban menutup diri dan enggan melapor, membuat pelaku semakin sulit dilacak.

Pihak berwenang telah berkali-kali mengingatkan masyarakat agar tidak mudah percaya pada investasi yang menawarkan keuntungan tak masuk akal. Jika imbal hasil yang dijanjikan terlalu tinggi dan tanpa risiko, itu sudah merupakan tanda bahaya. Dalam dunia investasi yang legal dan logis, setiap potensi keuntungan pasti berbanding lurus dengan risiko yang menyertainya.

Masyarakat juga perlu lebih aktif memverifikasi legalitas lembaga atau platform investasi yang mereka temui di media sosial. Pastikan bahwa entitas tersebut terdaftar dan diawasi oleh OJK atau lembaga resmi terkait. Situs resmi OJK menyediakan daftar lengkap perusahaan legal yang bisa dijadikan rujukan sebelum menyetorkan uang ke pihak manapun.

Media sosial memang tempat yang kaya akan informasi, tapi juga penuh jebakan. Jangan pernah mengambil keputusan keuangan hanya berdasarkan satu unggahan atau testimoni online. Lakukan riset menyeluruh, ajukan pertanyaan kritis, dan konsultasikan dengan orang yang paham sebelum memutuskan berinvestasi.

Penipuan investasi bodong akan terus berkembang selama masih ada celah dan korban yang mudah tergoda. Oleh karena itu, edukasi dan kewaspadaan digital harus menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat digital saat ini. Uang yang diperoleh dengan susah payah harus dijaga dengan pengetahuan, bukan hanya dengan harapan kosong.

Example 468x60

Komentar