Example floating
Example floating
Example 728x250
Sosial dan UmumSPKT

Akun Telegram Diretas, Penipu Menyamar Jadi Teman

199
×

Akun Telegram Diretas, Penipu Menyamar Jadi Teman

Sebarkan artikel ini

Telegram, salah satu aplikasi perpesanan yang populer karena fitur keamanannya, kini menjadi sasaran baru para pelaku penipuan digital. Banyak orang mengira platform ini lebih aman dibanding aplikasi serupa, namun nyatanya, kasus pembajakan akun terus meningkat. Yang lebih mengkhawatirkan, setelah akun diretas, penipu akan menyamar sebagai pemilik akun dan menjebak orang-orang terdekat korban, terutama lewat permintaan uang atau informasi pribadi.

Modus ini biasanya dimulai dari aksi peretasan akun. Pelaku bisa memperoleh akses melalui berbagai cara: mencuri kode OTP lewat rekayasa sosial (social engineering), menggunakan malware, atau mengeksploitasi kelemahan keamanan perangkat korban. Setelah berhasil masuk, penipu akan langsung mengganti nomor pemulihan, email, dan informasi penting lain agar korban tidak bisa mendapatkan kembali akunnya.

CALL CENTER
Example 300x600
Kapolres Pangandaran

Begitu akun berpindah tangan, pelaku mulai menjalankan aksinya dengan berpura-pura menjadi korban. Ia akan mengirim pesan ke teman-teman yang ada dalam kontak, dengan nada yang sangat akrab dan meyakinkan. Misalnya, “Halo, bisa bantu dulu sebentar?” atau “Aku sedang kena masalah, bisa pinjam dana dulu, nanti aku transfer balik sore ini.” Karena pengirim adalah akun asli milik teman atau saudara, banyak yang langsung percaya dan mengirimkan bantuan tanpa curiga.

Tidak sedikit kasus di mana korban kedua, yang mengira membantu temannya, justru tertipu jutaan rupiah. Bahkan ada pula yang mengirimkan data pribadi, kode OTP, atau foto KTP karena diminta untuk alasan tertentu—seperti “verifikasi rekening” atau “butuh registrasi cepat untuk bantu”. Modus ini sangat efektif karena memanfaatkan kepercayaan yang sudah dibangun antara dua orang, dan pelaku tidak perlu bersusah payah memperkenalkan diri atau membuat narasi baru.

Yang lebih berbahaya lagi, pelaku kerap menyalahgunakan akun tersebut untuk menipu dalam skala lebih luas. Mereka membuat grup atau channel palsu, menyebarkan link berbahaya, hingga melakukan penipuan berkedok jual beli barang atau investasi bodong, semuanya dengan identitas orang lain. Dalam banyak kasus, pemilik akun yang asli bahkan tidak sadar bahwa akunnya sedang digunakan untuk mencelakakan orang lain.

Korban peretasan akun Telegram biasanya baru menyadari masalah ini ketika mulai menerima komplain atau pertanyaan dari teman-teman mereka. Sayangnya, saat itu akun sudah tidak bisa diakses, dan proses pemulihan sangat sulit jika pelaku sudah mengubah data pemulihan. Ini menunjukkan betapa pentingnya menjaga keamanan akun digital, terutama yang menyimpan banyak kontak atau digunakan untuk keperluan bisnis.

Agar tidak menjadi korban dari modus ini, ada beberapa langkah pencegahan yang sangat penting dilakukan. Pertama, aktifkan fitur two-step verification di Telegram. Fitur ini akan meminta PIN tambahan saat login, sehingga meskipun pelaku mengetahui OTP, mereka tetap tidak bisa masuk. Kedua, jangan pernah memberikan kode OTP atau tautan login kepada siapa pun, bahkan jika tampaknya dikirim dari pihak resmi.

Ketiga, biasakan untuk memberitahu keluarga dan teman-teman bahwa jika suatu hari mereka menerima pesan mencurigakan atau permintaan mendesak, mereka harus menghubungi Anda melalui jalur lain untuk memastikan. Edukasi sederhana ini bisa menyelamatkan banyak orang dari penipuan berantai yang sering kali menimpa banyak pihak sekaligus.

Jika Anda merasa akun Anda telah dibajak, segera laporkan ke pihak Telegram dan buat pengumuman melalui media sosial atau grup lain bahwa akun Anda sudah tidak lagi berada dalam kendali. Informasikan ciri-ciri pesan yang kemungkinan dikirim oleh pelaku agar orang-orang tidak terjebak lebih jauh.

Di dunia digital, identitas bisa dicuri dan dimanipulasi dengan sangat cepat. Maka dari itu, pengamanan akun bukan hanya soal perlindungan diri sendiri, tapi juga tanggung jawab terhadap orang lain di sekitar kita. Jangan menunggu jadi korban atau membuat orang terdekat kita tertipu karena kelengahan yang bisa dicegah.

Example 468x60

Komentar