Example floating
Example floating
Example 728x250
Sosial dan UmumSPKT

Data Dicuri dari Formulir Online, Korban Kehilangan Uang

108
×

Data Dicuri dari Formulir Online, Korban Kehilangan Uang

Sebarkan artikel ini

Di era digital seperti sekarang, mengisi formulir online sudah menjadi hal yang lumrah. Mulai dari registrasi webinar, pendaftaran undian, pengisian survei, hingga klaim diskon atau promosi, semuanya dilakukan melalui form digital yang terlihat sederhana dan tidak mencurigakan. Namun, di balik kemudahan itu, banyak orang tidak menyadari bahwa formulir online palsu telah menjadi alat ampuh bagi pelaku penipuan digital untuk mencuri data pribadi dan merugikan korban secara finansial.

Modus ini berjalan dengan sangat halus dan nyaris tanpa disadari. Pelaku membuat formulir palsu menggunakan platform populer seperti Google Form, Typeform, atau situs web tiruan yang tampilannya dibuat menyerupai halaman resmi suatu perusahaan. Judulnya pun tampak meyakinkan: “Form Pendaftaran Promo Cashback”, “Formulir Bantuan Dana Pendidikan”, atau “Klaim Hadiah Undian Digital”.

CALL CENTER
Example 300x600
Kapolres Pangandaran

Saat korban mengisi form tersebut, mereka diminta untuk memberikan data pribadi secara rinci—mulai dari nama lengkap, nomor KTP, alamat, nama ibu kandung, nomor rekening, nomor HP, hingga email dan password. Beberapa formulir bahkan meminta kode OTP atau PIN dengan dalih verifikasi. Karena tampilannya terlihat profesional dan pengirimnya tampak terpercaya (kadang menyamar sebagai institusi pemerintah, bank, atau brand ternama), korban tak ragu memasukkan data-data tersebut.

Tanpa disadari, data yang dikirim langsung masuk ke database pelaku. Dari sini, penipu memiliki akses ke informasi penting yang bisa digunakan untuk mengambil alih akun korban, melakukan pembobolan e-wallet, mengajukan pinjaman online, hingga menjual data ke pihak lain di pasar gelap digital (dark web). Tak jarang, korban baru menyadari setelah uang di rekeningnya raib, atau ketika mendapat tagihan dari pinjaman online yang tidak pernah mereka ajukan.

Yang membuat kasus ini semakin rumit adalah fakta bahwa pelaku sering menyebarkan form palsu melalui iklan di media sosial, grup WhatsApp, atau melalui akun palsu yang menyamar sebagai admin dari layanan populer. Bahkan kadang mereka bekerja sama dengan akun influencer atau bot komentar untuk meningkatkan kepercayaan publik terhadap link yang mereka sebarkan.

Tak hanya kerugian finansial, pencurian data dari formulir palsu juga membuka potensi penyalahgunaan identitas. Nama dan nomor KTP bisa digunakan untuk membuat akun palsu, nomor HP bisa dipakai untuk verifikasi ilegal, dan email bisa digunakan untuk melakukan pendaftaran ke layanan tidak sah. Lebih buruk lagi, jika data disalahgunakan untuk tindak kriminal, korban bisa terseret kasus hukum yang tidak mereka pahami sama sekali.

Agar tidak menjadi korban, penting bagi masyarakat untuk lebih selektif dan waspada terhadap setiap formulir online yang mereka isi. Jangan pernah memberikan informasi sensitif—seperti nomor rekening, kode OTP, PIN, atau foto KTP—kecuali melalui kanal resmi dan terverifikasi. Selalu periksa ulang URL link, cek apakah website menggunakan protokol aman (https://), dan cari tahu apakah kampanye atau promo tersebut benar-benar diumumkan oleh pihak yang bersangkutan.

Langkah pencegahan lainnya adalah dengan membiasakan diri membaca kebijakan privasi dan tujuan pengumpulan data. Formulir resmi dari perusahaan terpercaya biasanya mencantumkan alasan pengumpulan data dan menjelaskan bagaimana data tersebut akan digunakan. Jika form terlihat terlalu sederhana, meminta terlalu banyak informasi, atau tidak menjelaskan dengan jelas tujuan pengisian, sebaiknya hindari dan laporkan.

Selain itu, gunakan email dan nomor HP cadangan untuk kebutuhan non-penting agar data utama Anda tetap aman. Jangan lupa aktifkan autentikasi dua langkah di semua akun digital utama seperti email, media sosial, dan aplikasi keuangan.

Pencurian data bukan hanya soal kerugian uang. Ia bisa menjadi pintu masuk untuk berbagai masalah lainnya: dari penipuan berantai, ancaman hukum, hingga kerusakan reputasi. Karena itu, kesadaran terhadap keamanan data pribadi harus ditanamkan sejak dini dan menjadi kebiasaan dalam setiap aktivitas digital.

Ingat, mengisi formulir online hanya butuh satu menit, tapi akibatnya bisa bertahun-tahun. Jangan biarkan kecerobohan hari ini menjadi awal dari kerugian besar di masa depan.

Example 468x60

Komentar