Di era digital yang serba cepat ini, siapa pun bisa menghubungi kita kapan saja, bahkan dari nomor yang tampak resmi, meyakinkan, atau—dalam banyak kasus—terlihat “cantik”. Nomor-nomor premium seperti 1500xxx, 140xx, atau +62877xxxxxx sering kali digunakan oleh perusahaan besar untuk layanan pelanggan. Namun sayangnya, penipu kini juga memanfaatkan jenis nomor ini untuk menjalankan aksi kriminal mereka, dan korban pun berjatuhan karena mengira panggilan itu berasal dari lembaga resmi.
Modus penipuan lewat nomor premium atau nomor cantik ini mengandalkan kepercayaan visual. Ketika seseorang melihat nomor yang pendek, rapi, dan tampak profesional, mereka cenderung percaya tanpa curiga. Ini menjadi celah besar bagi pelaku untuk menyamar sebagai pihak bank, perusahaan telekomunikasi, e-commerce, bahkan aparat hukum. Dengan modal suara meyakinkan dan skrip percakapan yang sudah mereka hafal, korban pun terjebak dalam skenario yang sudah dirancang matang.
Salah satu modus paling umum adalah penipuan berkedok verifikasi data perbankan. Pelaku akan menyebut nama korban, mengaku dari pihak bank, lalu mengatakan ada transaksi mencurigakan atau pembaruan data nasabah yang sedang dilakukan. Untuk alasan “keamanan”, mereka akan meminta korban menyebutkan data pribadi seperti nomor rekening, PIN, kode OTP, hingga nama ibu kandung. Semua informasi itu kemudian digunakan untuk membobol rekening atau akun digital korban.
Yang lebih mencengangkan, korban sering tidak sadar bahwa mereka sebenarnya sedang menelepon nomor berbayar. Beberapa nomor premium yang dipasang di iklan palsu di media sosial atau Google bisa dikenakan tarif tinggi setiap menitnya. Dalam skenario tertentu, pelaku tidak hanya mencuri uang lewat data korban, tapi juga menguras pulsa atau tagihan telepon secara tidak langsung. Semakin lama korban berbicara, semakin besar biaya yang dikenakan—bahkan sebelum korban mengalami kerugian karena transfer dana, mereka sudah dirugikan dari segi tagihan telepon.
Lebih buruk lagi, para pelaku kini bekerja secara sistematis dan profesional. Mereka tidak beroperasi secara individu, tetapi dalam jaringan besar seperti call center ilegal yang memiliki banyak “agen”. Mereka menggunakan perangkat lunak untuk menyamarkan nomor agar terlihat resmi, memanfaatkan rekaman suara, dan menyusun data korban berdasarkan hasil kebocoran data yang dijual di pasar gelap digital.
Dalam banyak kasus, korban baru sadar setelah uangnya terkuras, pulsanya habis, atau tagihan pascabayarnya melonjak drastis. Ketika mencoba menghubungi kembali nomor tersebut, sudah tidak aktif atau langsung diarahkan ke mesin otomatis yang hanya memutar rekaman palsu. Mereka pun tidak punya bukti kuat untuk melacak pelaku karena nomor premium semacam itu sering didaftarkan menggunakan identitas fiktif.
Penting bagi masyarakat untuk memahami bahwa tidak semua nomor cantik atau premium berarti resmi dan terpercaya. Cek selalu nomor tersebut di situs resmi perusahaan atau gunakan aplikasi pemindai nomor yang bisa mendeteksi panggilan spam dan berbahaya. Selain itu, biasakan untuk tidak memberikan data pribadi melalui telepon kecuali Anda benar-benar yakin dengan identitas penelepon, dan lebih baik lakukan verifikasi secara langsung ke kantor resmi atau layanan yang sah.
Perusahaan telekomunikasi juga perlu mengambil peran penting dalam menindak nomor-nomor premium yang digunakan untuk penipuan. Kerja sama antara pemerintah, penyedia layanan komunikasi, dan lembaga perlindungan konsumen harus diperkuat agar penipuan berbasis nomor premium tidak terus berulang.
Dalam era di mana penipu bisa menyamar menjadi siapa saja dan dari mana saja, kita tidak hanya dituntut cerdas secara finansial, tetapi juga bijak dalam menerima informasi dan panggilan masuk. Jangan sampai hanya karena “nomornya terlihat keren”, kita kehilangan uang, data, dan rasa aman. Karena di balik nomor cantik, bisa saja tersembunyi niat jahat yang tak kasat mata.