Banyak orang terperangkap dalam jebakan investasi karena tergoda oleh janji keuntungan tinggi yang tampak sangat menggiurkan. Tawaran seperti “20% dalam sebulan”, “keuntungan tetap tanpa risiko”, atau “balik modal dalam waktu seminggu” seolah menjadi solusi cepat untuk memperbaiki kondisi keuangan. Padahal, skema seperti ini hampir selalu berujung pada penipuan. Tidak ada investasi legal dan sehat yang menjanjikan imbal hasil besar tanpa risiko apa pun.
Modus ini biasanya dimulai dari promosi agresif di media sosial, chat pribadi, atau forum online. Pelaku tampil sebagai “mentor keuangan” atau “konsultan investasi” yang mengaku telah sukses dalam waktu singkat. Mereka memperlihatkan gaya hidup mewah, saldo rekening fantastis, bahkan memamerkan bukti transfer keuntungan kepada para peserta yang sebelumnya telah bergabung. Semua ini didesain untuk menciptakan ilusi keberhasilan dan menarik minat orang awam.
Korban biasanya mulai tergoda karena merasa ini adalah peluang yang tidak datang dua kali. Apalagi jika mereka sedang berada dalam tekanan ekonomi, seperti butuh uang tambahan untuk biaya sekolah anak, membayar cicilan, atau membantu keluarga. Rasa ingin cepat sukses dan rasa takut ketinggalan menjadi kombinasi yang membuat korban makin mudah dibujuk.
Setelah bergabung, pelaku akan meminta korban menyetor dana sebagai “modal awal”. Dalam beberapa kasus, mereka akan memberikan keuntungan kecil di awal untuk meyakinkan bahwa sistem ini benar-benar bekerja. Ini sebenarnya adalah bagian dari strategi ponzi, di mana uang dari investor baru digunakan untuk membayar investor lama. Skema ini hanya bertahan selama ada aliran dana baru yang masuk.
Ketika aliran dana mulai melambat, pelaku akan menghilang secara tiba-tiba. Situs web ditutup, grup diskusi dibubarkan, dan semua akun media sosial pelaku mendadak lenyap. Korban yang semula percaya penuh pun mulai panik, menyadari bahwa uang mereka tidak bisa ditarik kembali. Sayangnya, saat ini terjadi, penegakan hukum pun kerap terkendala karena kurangnya bukti atau keberadaan pelaku yang sulit dilacak.
Kasus semacam ini tidak hanya menimpa orang dengan pendidikan rendah. Bahkan banyak kalangan profesional seperti pegawai kantor, guru, hingga mahasiswa pun menjadi korban. Keinginan untuk mendapatkan penghasilan pasif dalam waktu cepat membuat siapa pun bisa terjebak, apalagi jika tidak dibekali pemahaman dasar tentang cara kerja investasi yang sehat dan legal.
Pemerintah melalui OJK dan Satgas Waspada Investasi sebenarnya telah berkali-kali mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai tawaran-tawaran semacam ini. Namun penyebaran informasi penipuan masih kalah cepat dibandingkan strategi marketing para pelaku. Mereka terus menemukan cara-cara baru untuk menjangkau korban, bahkan menggandeng selebgram atau influencer yang tidak sadar ikut mempromosikan skema bodong.
Langkah pencegahan terbaik adalah dengan selalu memverifikasi setiap tawaran investasi, tidak peduli seberapa meyakinkan presentasinya. Jika imbal hasil terdengar terlalu bagus untuk jadi kenyataan, maka besar kemungkinan itu memang palsu. Tidak ada jalan pintas untuk kekayaan yang stabil dan aman. Semua butuh proses, pengetahuan, dan kehati-hatian.
Masyarakat harus lebih berani untuk bertanya, skeptis terhadap janji berlebihan, dan mau meluangkan waktu untuk mempelajari dasar-dasar keuangan. Edukasi adalah senjata utama untuk memutus rantai penipuan yang terus menjamur dalam berbagai bentuk. Jangan sampai mimpi ingin untung malah berakhir buntung.