Example floating
Example floating
Example 728x250
Sosial dan UmumSPKT

Pengakuan Korban: Terlilit Pinjol karena Salah Klik Iklan

81
×

Pengakuan Korban: Terlilit Pinjol karena Salah Klik Iklan

Sebarkan artikel ini

Semua berawal dari sebuah iklan kecil yang muncul di tengah-tengah layar smartphone. “Butuh dana cepat? Tanpa ribet, cair dalam hitungan menit!” tulisnya, lengkap dengan angka besar, logo menyerupai lembaga resmi, dan tombol berwarna mencolok bertuliskan Ajukan Sekarang. Bagi sebagian besar orang, iklan seperti ini mungkin hanya akan dilewati. Tapi bagi seseorang yang sedang dalam kondisi terjepit secara ekonomi, tombol itu bisa terlihat seperti jalan keluar. Begitu juga dengan Dian (bukan nama sebenarnya), seorang karyawan kontrak yang tengah kesulitan membayar cicilan motor.

Dian mengaku tak berniat meminjam uang dari pinjaman online. Ia hanya merasa penasaran saat iklan itu muncul di beranda media sosialnya. Sekali klik, ia langsung dibawa ke situs unduhan aplikasi pinjaman. Tanpa pikir panjang, ia mengunduh, membuka, lalu mengisi data diri. Nama lengkap, nomor KTP, nomor rekening, alamat rumah, bahkan akses ke daftar kontak dan galeri diizinkannya demi bisa “melanjutkan proses”. Dalam waktu kurang dari 10 menit, uang Rp500.000 masuk ke rekeningnya. Tidak ada kontrak cetak, tidak ada verifikasi identitas tambahan. Hanya SMS pemberitahuan bahwa dana sudah dicairkan.

CALL CENTER
Example 300x600
Kapolres Pangandaran

Awalnya, Dian mengira ini adalah solusi jangka pendek yang bisa ia atasi minggu depan saat gajian. Tapi ternyata, dari uang Rp500.000 itu, yang diterima bersih hanya Rp350.000—karena potongan biaya layanan dan administrasi yang tak pernah dijelaskan sebelumnya. Seminggu kemudian, ia ditagih untuk membayar Rp800.000. Ketika tidak mampu membayar, teror pun datang.

Setiap hari, Dian menerima puluhan telepon dan pesan dari nomor tidak dikenal. Lebih parahnya, teman-teman di kontak ponselnya juga mulai menerima pesan dari penagih yang mengaku sebagai pihak pinjol. Mereka menuduh Dian tidak bertanggung jawab, menyebutnya sebagai penipu, bahkan menyebarkan foto pribadi miliknya yang diambil dari galeri ponsel. Dalam hitungan hari, reputasi dan privasinya hancur total.

Tak sanggup menghadapi tekanan, Dian mencoba menutup utang itu dengan meminjam dari aplikasi pinjaman lain. Dan dari situlah mimpi buruk yang lebih besar dimulai. Dalam waktu dua minggu, ia telah mendaftarkan diri ke 14 aplikasi berbeda. Total uang yang ia terima hanya sekitar Rp3 juta. Tapi jumlah yang harus dibayarnya melebihi Rp12 juta. Ia tidak tahu bagaimana bisa sampai sejauh ini—semua karena satu klik kecil di iklan yang terlihat tak berbahaya.

Kasus seperti Dian bukanlah hal langka. Ribuan orang di Indonesia terjebak dalam pusaran pinjaman online hanya karena penasaran atau tergiur janji manis dari iklan digital. Banyak dari mereka tidak benar-benar butuh uang dalam jumlah besar—mereka hanya terjebak karena proses yang cepat dan mudah, tanpa tahu bahwa mereka sedang menyerahkan kendali penuh atas data pribadinya kepada pihak yang tidak bertanggung jawab.

Masalah ini semakin pelik karena algoritma media sosial secara aktif menargetkan iklan semacam itu kepada mereka yang rentan: pengguna yang sering mencari informasi tentang keuangan, kredit, atau bantuan dana. Artinya, semakin seseorang merasa terdesak, semakin besar kemungkinan mereka akan melihat (dan mengklik) iklan pinjaman ilegal.

Regulasi sebenarnya sudah ada. OJK dan Kominfo telah bekerja sama untuk memblokir ribuan aplikasi pinjol ilegal. Tapi iklan-iklan semacam itu tetap bermunculan di berbagai platform, sering kali dengan nama dan tampilan yang baru. Bahkan, ada yang menyamar sebagai aplikasi belanja, pendidikan, atau game untuk menghindari sensor awal.

Solusi nyata harus dimulai dari kesadaran pengguna. Klik bukanlah tindakan sepele di era digital. Satu klik bisa mengarahkan pada pengetahuan, tapi satu klik juga bisa menghancurkan nama baik dan keuangan seseorang. Edukasi digital harus mengajarkan bahwa iklan yang menawarkan kemudahan luar biasa hampir selalu menyembunyikan jebakan.

Selain itu, platform digital seperti Facebook, Instagram, dan TikTok juga harus lebih bertanggung jawab dalam menyaring iklan keuangan. Mereka tidak bisa hanya menerima uang dari pengiklan tanpa mengecek apakah aplikasi yang dipromosikan legal atau tidak.

Dian akhirnya harus meminta bantuan lembaga bantuan hukum dan menghapus semua aplikasinya. Ia masih berjuang memperbaiki reputasinya, dan lebih waspada terhadap setiap tautan, setiap iklan, setiap tombol yang muncul di layar.

Karena terkadang, bencana tidak dimulai dari keputusan besar—tetapi dari satu sentuhan kecil yang dilakukan saat pikiran sedang lelah dan hati sedang rapuh.

Example 468x60

Komentar