Di balik maraknya penipuan digital, ada banyak cerita korban yang tak hanya kehilangan harta benda, tetapi juga dihantui rasa bersalah dan trauma karena merasa telah tertipu oleh sesuatu yang “terdengar meyakinkan”. Salah satu modus yang paling sering menjebak adalah rayuan manis pelaku penipuan lewat telepon, yang membuat korban larut dalam percakapan dan akhirnya menyerahkan informasi pribadi, uang, atau akses akun mereka sendiri.
Banyak korban mengaku bahwa mereka tidak menyangka akan tertipu. Alasannya sederhana: pelaku tidak terdengar jahat, tidak memaksa, bahkan berbicara dengan nada hangat dan sopan. Awalnya hanya basa-basi, kemudian berlanjut ke obrolan seputar pekerjaan, keluarga, hingga tawaran menarik seperti hadiah, peluang bisnis, atau program loyalitas dari perusahaan ternama. Semua dikemas dengan gaya komunikasi yang persuasif dan sangat manusiawi.
Salah satu mantan korban yang berhasil keluar dari jerat ini mengungkapkan bahwa ia awalnya hanya menjawab survei singkat, lalu beberapa hari kemudian ditelepon kembali oleh “pihak sponsor” yang mengucapkan selamat karena ia mendapat reward berupa uang tunai. Proses pencairannya, katanya, hanya perlu “verifikasi data singkat dan biaya administrasi ringan.” Karena merasa sudah percaya dari panggilan sebelumnya, ia pun menuruti semua instruksi.
Dalam hitungan jam, korban sudah mentransfer uang ratusan ribu rupiah. Bahkan saat uang pertama diminta dengan alasan “biaya transfer”, uang kedua diminta untuk “pajak pemenang”, dan uang ketiga untuk “surat resmi pencairan dana”—semuanya masih ia turuti karena merasa sudah sejauh ini. Hingga akhirnya ia mulai curiga ketika permintaan terus berulang, dan dana tak kunjung cair. Saat ia mencoba menghubungi kembali nomor pelaku, sudah tidak aktif.
Fenomena seperti ini tidak hanya menimpa satu atau dua orang. Di media sosial, banyak warganet yang mulai terbuka membagikan cerita serupa. Mereka tidak malu mengakui bahwa pernah menjadi korban karena pelaku benar-benar pandai membangun kepercayaan dan memainkan emosi. Bahkan beberapa korban mengaku sempat merasa akrab atau terhibur dengan pelaku, seperti berbicara dengan teman lama.
Modus penipuan seperti ini sangat berbahaya karena tidak mengandalkan tekanan, tapi rasa nyaman. Saat korban merasa dihargai, disapa dengan baik, dan didengar, ia akan lebih terbuka dan longgar dalam menjaga batas privasinya. Pelaku mengetahui ini dan memanfaatkan momen untuk mulai menggali informasi penting—nama lengkap, alamat, data keuangan, dan akhirnya, meminta uang.
Yang harus diwaspadai adalah bahwa pelaku umumnya memiliki daftar target yang sudah diklasifikasi berdasarkan usia, minat, dan status sosial. Data ini bisa mereka beli dari pasar gelap digital atau didapat dari kebocoran formulir online yang pernah kita isi tanpa sadar. Mereka bahkan tahu jam-jam terbaik untuk menelepon, dan menggunakan skenario yang cocok dengan profil calon korban.
Masyarakat perlu lebih sadar bahwa suara ramah tidak menjamin niat baik. Dalam situasi apapun, kita berhak untuk curiga, menolak, bahkan menutup sambungan jika merasa percakapan mulai mengarah ke hal-hal sensitif. Jangan mudah percaya hanya karena penelepon menyebut nama Anda dengan benar atau tahu sedikit informasi tentang diri Anda.
Penting juga untuk memperkuat literasi digital dalam keluarga. Ajarkan orang tua, pasangan, bahkan anak remaja tentang cara mengidentifikasi manipulasi dalam percakapan. Jelaskan bahwa tidak ada hadiah instan, tidak ada pencairan dana lewat biaya transfer pribadi, dan tidak ada verifikasi yang sah lewat telepon saja.
Bagi korban yang pernah mengalami penipuan, penting untuk tidak merasa malu. Penipu semakin canggih, dan tidak semua korban adalah orang yang ceroboh. Yang terpenting adalah segera melapor ke pihak berwenang, memblokir akun dan nomor yang terlibat, serta menyebarkan informasi tersebut agar tidak ada lagi korban berikutnya.
Karena kadang, penipuan tidak datang dengan ancaman atau kekerasan. Ia datang dengan suara halus, menyapa dengan sopan, dan meninggalkan luka yang dalam.