Impian untuk tampil di depan kamera dan menjadi model iklan adalah cita-cita banyak orang, terutama generasi muda yang melihat dunia periklanan dan hiburan sebagai pintu menuju popularitas dan penghasilan besar. Tak heran, ketika seseorang tiba-tiba mendapatkan pesan ajakan menjadi model dari akun yang mengaku sebagai agensi ternama, rasa senang dan penasaran pun muncul. Sayangnya, euforia ini sering kali dimanfaatkan oleh penipu dengan skenario penipuan yang terlihat meyakinkan namun berujung kerugian.
Modus ini biasanya diawali dengan pesan pribadi melalui media sosial, seperti Instagram atau WhatsApp. Pelaku mengaku sebagai perwakilan dari agensi periklanan atau rumah produksi, menyebut bahwa mereka menemukan profil atau foto korban dan menilainya cocok untuk sebuah proyek iklan. Pesannya terdengar profesional dan menggoda, lengkap dengan rincian proyek seperti brand yang akan diiklankan, tema iklan, serta bayaran yang konon sangat besar.
Agar semakin meyakinkan, pelaku menyebut bahwa pemotretan akan dilakukan secara profesional dan hasilnya akan dimasukkan ke dalam portofolio agensi. Mereka menyertakan tautan ke akun media sosial agensi palsu yang tampak aktif, bahkan kadang mencantumkan testimoni dari “model-model sebelumnya”. Semua ini dirancang agar korban merasa sedang berhadapan dengan pihak yang kredibel.
Setelah korban menyatakan minat, pelaku menyampaikan bahwa sesi photoshoot akan dilakukan dalam waktu dekat dan korban perlu segera mengamankan slot. Namun, agar bisa mengikuti sesi tersebut, korban diminta membayar sejumlah uang sebagai biaya pendaftaran, makeup, wardrobe, atau sewa studio. Angka yang diminta bervariasi, tergantung pada skenario yang dimainkan—namun biasanya antara ratusan ribu hingga jutaan rupiah.
Pelaku berjanji bahwa biaya tersebut akan dikembalikan setelah proyek selesai atau langsung dipotong dari pembayaran fee model. Karena merasa ini adalah peluang emas dan takut kehilangan kesempatan, korban akhirnya mentransfer uang tanpa banyak bertanya. Setelah itu, pelaku terus memberi janji palsu—mulai dari revisi jadwal, teknis pemotretan, hingga alasan-alasan lain yang terus ditunda.
Ketika korban mulai curiga dan menagih kepastian, pelaku menghilang. Kontak diputus, akun media sosial menghilang, dan semua janji pekerjaan lenyap tanpa jejak. Korban pun baru menyadari bahwa mereka telah menjadi sasaran penipuan bermodus lowongan model.
Yang membuat modus ini berbahaya adalah kemampuannya menyasar sisi emosional korban. Pelaku tidak hanya memanfaatkan keinginan untuk tampil di depan kamera, tetapi juga mengeksploitasi kepercayaan diri, harapan, dan semangat berkarier. Dalam beberapa kasus, korban bahkan malu untuk menceritakan apa yang terjadi, karena merasa telah tertipu oleh impiannya sendiri.
Untuk menghindari penipuan semacam ini, masyarakat perlu lebih kritis terhadap tawaran kerja yang datang tiba-tiba, apalagi jika diiringi permintaan uang di awal proses. Agensi model dan rumah produksi profesional biasanya tidak akan meminta biaya di awal kepada talenta yang direkrut. Justru mereka membayar model setelah pekerjaan selesai, bukan sebaliknya.
Lakukan verifikasi menyeluruh terhadap agensi yang menghubungi. Cari tahu apakah perusahaan tersebut benar-benar ada, apakah mereka memiliki alamat kantor, website resmi, dan kontak yang bisa diverifikasi. Hindari agensi yang hanya berkomunikasi melalui chat pribadi tanpa pertemuan langsung atau kontrak tertulis.
Penting juga untuk berkonsultasi dengan orang yang lebih berpengalaman di dunia modeling, atau bertanya di komunitas dan forum yang relevan. Banyak penipuan bisa dihindari jika calon korban mengambil waktu untuk mencari informasi tambahan sebelum membuat keputusan.
Dunia modeling memang penuh peluang, tetapi juga dipenuhi jebakan yang memanfaatkan ambisi dan ketidaktahuan. Jangan biarkan keinginan untuk tampil di depan kamera membuat Anda kehilangan kewaspadaan. Lebih baik menolak tawaran yang mencurigakan daripada menyesal karena terjebak penipuan yang menyakitkan.
















