Di era media sosial seperti sekarang, banyak orang menerima pesan dari akun yang mengaku sebagai teman lama. Awalnya terdengar menyenangkan, apalagi jika sudah lama tidak berkomunikasi. Namun, kamu perlu berhati-hati, karena bisa jadi itu adalah akun palsu yang berniat menipu.
Modus penipuan ini dimulai dengan pelaku membuat akun media sosial menggunakan nama dan foto dari orang yang kamu kenal. Mereka mengirim pesan ramah, mengingatkan masa lalu, atau berpura-pura ingin menjalin silaturahmi. Setelah kamu percaya, mereka mulai melancarkan aksinya.
Biasanya, pelaku akan menceritakan kondisi mendesak seperti kecelakaan, kehilangan dompet, atau butuh pinjaman sementara. Karena kamu mengira itu benar-benar teman lama, kamu jadi terdorong untuk membantu tanpa banyak pertanyaan. Inilah yang menjadi celah penipuan.
Ada juga yang menggunakan akun palsu ini untuk menawarkan investasi, jual beli barang, atau jasa tertentu. Dengan embel-embel kepercayaan lama, korban jadi lebih mudah tergoda dan mentransfer uang tanpa memverifikasi kebenaran informasi tersebut.
Salah satu cara mengenali akun palsu adalah dengan memperhatikan cara mereka berbicara. Jika terasa kaku, tidak seperti gaya bahasa temanmu biasanya, atau terlalu buru-buru mengajak transaksi, itu bisa jadi pertanda mencurigakan. Jangan langsung percaya hanya karena foto profil dan nama terlihat familiar.
Selalu cek ulang dengan cara lain, misalnya dengan menghubungi nomor telepon lama temanmu atau melalui akun media sosial lain yang kamu tahu asli. Jangan langsung mengikuti permintaan mereka, apalagi jika sudah melibatkan uang atau data pribadi.
Jika kamu menemukan akun mencurigakan yang mengaku sebagai kenalanmu, segera laporkan ke pihak platform sosial media. Tindakan cepat ini bisa mencegah penipuan lebih lanjut ke orang lain yang mungkin juga ada dalam daftar pertemanan mereka.
Sebisa mungkin, jangan membagikan informasi pribadi, nomor rekening, atau data penting melalui pesan langsung di media sosial, apalagi kepada akun yang belum jelas keasliannya. Penipu bisa menggunakan informasi tersebut untuk kejahatan lainnya, termasuk pencurian identitas.
Bantu orang lain agar tidak tertipu dengan cara menyebarkan informasi ini, terutama kepada orang tua atau keluarga yang mungkin belum terbiasa memverifikasi akun online. Meningkatkan kesadaran digital bisa menjadi benteng pertama melawan penipuan berbasis media sosial.
Ingat, tidak semua yang terlihat akrab benar-benar aman. Di dunia digital, siapa pun bisa berpura-pura menjadi siapa saja. Tetap waspada dan jangan cepat percaya dengan akun yang mengaku teman lama, karena bisa jadi itu adalah topeng bagi seorang penipu.
















