Kebutuhan akan dukungan psikologis dan konsultasi mental health semakin meningkat seiring bertambahnya tekanan hidup dan kesadaran akan pentingnya kesehatan mental. Banyak orang, terutama generasi muda, mulai mencari bantuan melalui jalur digital—baik melalui aplikasi, media sosial, atau layanan konsultasi daring. Celah inilah yang kini dimanfaatkan oleh pelaku penipuan, dengan menyamar sebagai konsultan psikologi dan menyebarkan konten manipulatif yang sebenarnya dikendalikan oleh sistem otomatis atau akun robot.
Modus ini dimulai dari iklan atau pesan pribadi yang tampak peduli. Seseorang dengan profil “konselor profesional” atau “psikolog independen” menghubungi korban dan menawarkan sesi konseling gratis atau paket bimbingan mental dengan harga terjangkau. Dalam beberapa kasus, mereka bahkan muncul di kolom komentar media sosial yang membahas mental health, seolah-olah peduli dan siap membantu.
Korban yang sedang mengalami masalah emosional sering kali tertarik, apalagi jika sedang berada dalam kondisi rentan. Mereka pun mulai menjawab pesan tersebut dan menerima sapaan atau pertanyaan yang terdengar simpatik. Namun, jika diperhatikan lebih dalam, respons yang diberikan sangat generik dan terkesan diulang-ulang. Tidak ada sentuhan pribadi, tidak ada tanggapan yang betul-betul menanggapi cerita yang disampaikan.
Akun-akun ini ternyata bukan dikendalikan oleh konselor sungguhan, melainkan sistem bot atau otomatisasi yang dirancang untuk menggiring korban ke tahap berikutnya: pembelian layanan tambahan. Setelah beberapa balasan, korban mulai diarahkan untuk membayar biaya langganan sesi terapi, membeli e-book, atau mengikuti program kesehatan mental eksklusif. Pelaku menyebut bahwa paket ini akan membantu mengatasi stres, depresi, atau trauma secara bertahap.
Yang lebih mencemaskan, sebagian dari akun palsu ini juga meminta data pribadi seperti tanggal lahir, alamat, kondisi kesehatan, bahkan data keuangan. Mereka berdalih bahwa data diperlukan untuk menyesuaikan metode terapi. Padahal, informasi tersebut justru dikumpulkan untuk kepentingan penyalahgunaan data atau bahkan penipuan lanjutan.
Korban baru menyadari keanehan saat pesan yang dikirim tidak pernah dijawab secara spesifik, atau saat “konselor” terus-menerus menawarkan produk berbayar tanpa benar-benar membantu menyelesaikan masalah. Setelah pembayaran dilakukan, layanan yang dijanjikan tak kunjung diberikan. Jika korban mengeluh atau bertanya, akun bisa saja langsung menghilang atau memblokir akses.
Fenomena ini menunjukkan betapa berbahayanya penipuan yang memanfaatkan isu kesehatan mental. Pelaku tidak hanya mengambil keuntungan finansial, tetapi juga merusak rasa percaya diri korban yang sedang berusaha mencari bantuan. Dalam kondisi rentan, seseorang bisa saja terjebak lebih dalam dalam manipulasi emosional ini.
Langkah pertama untuk mencegah penipuan semacam ini adalah mengenali bahwa layanan psikologi yang profesional tidak pernah dilakukan secara otomatis atau sepihak. Konselor dan psikolog sungguhan akan memberikan respon personal, berbasis etika, dan tidak langsung menawarkan produk atau jasa tanpa melakukan asesmen terlebih dahulu.
Penting juga untuk memverifikasi latar belakang konselor atau lembaga yang menawarkan layanan. Apakah mereka terdaftar di asosiasi profesi yang resmi? Apakah ada izin praktik atau sertifikat yang bisa ditelusuri? Hindari berkonsultasi melalui jalur pribadi tanpa kejelasan institusi dan mekanisme pertanggungjawaban.
Jika merasa membutuhkan bantuan psikologis, pilihlah platform atau lembaga yang telah dikenal kredibel. Banyak organisasi kesehatan mental kini menyediakan layanan daring yang aman dan diawasi oleh tenaga profesional. Jangan percaya begitu saja pada akun media sosial yang mengaku peduli, apalagi jika mereka langsung berbicara soal uang atau menawarkan solusi instan.
Kesehatan mental adalah hal yang serius, dan penanganannya tidak boleh dipercayakan kepada siapa pun tanpa validasi. Waspadalah terhadap simpati palsu yang sebenarnya hanya algoritma otomatis. Di tengah dunia digital yang serba cepat, kebaikan dan kepedulian pun bisa dipalsukan. Tetaplah hati-hati, terutama saat yang Anda cari adalah pertolongan.
















