Kemajuan teknologi komunikasi telah memudahkan masyarakat untuk saling terhubung tanpa batas. Namun, di balik kemudahan tersebut, muncul pula ancaman baru yang semakin marak: penipuan yang mengatasnamakan teman, keluarga, atau rekan kerja melalui media sosial dan aplikasi pesan. Modus ini terlihat sederhana, tetapi sangat efektif karena memanfaatkan kepercayaan dan kedekatan emosional korban.
Kasus penipuan dengan modus “akun teman” kini semakin sering terjadi. Pelaku biasanya membuat akun palsu dengan nama dan foto profil yang sama seperti orang terdekat korban. Setelah itu, mereka mulai mengirim pesan pribadi seolah-olah sedang membutuhkan bantuan mendesak — misalnya meminta pinjaman uang, saldo digital, atau kode OTP dengan alasan tertentu. Banyak orang tertipu karena tidak sempat memverifikasi identitas pengirim.
Dalam beberapa kasus, pelaku tidak hanya membuat akun palsu, tetapi juga meretas akun asli korban. Setelah berhasil masuk, mereka langsung menghubungi daftar teman di media sosial atau kontak di aplikasi pesan untuk melancarkan aksinya. Korban baru menyadari peretasan setelah banyak orang di sekitarnya menjadi sasaran pesan penipuan tersebut.
Modus ini berbahaya karena memanfaatkan unsur emosional dan kepercayaan pribadi. Saat menerima pesan dari orang yang dikenal, korban cenderung menurunkan kewaspadaan dan langsung merespons. Padahal, inilah momen yang dimanfaatkan pelaku untuk mengambil keuntungan dalam waktu singkat.
Untuk menghindari penipuan semacam ini, masyarakat perlu menerapkan verifikasi ganda setiap kali menerima pesan mencurigakan. Jika ada teman atau keluarga yang tiba-tiba meminta bantuan finansial, pastikan untuk melakukan konfirmasi melalui panggilan langsung atau tatap muka sebelum mengirim uang atau data pribadi. Jangan terburu-buru, meskipun pesannya terlihat mendesak.
Langkah pencegahan lain yang penting adalah menjaga keamanan akun pribadi. Gunakan kata sandi yang kuat dan unik, aktifkan autentikasi dua langkah (2FA), dan hindari membagikan kode OTP kepada siapa pun. Pengguna juga disarankan untuk secara rutin memeriksa perangkat yang terhubung dengan akun media sosial mereka dan keluar dari perangkat yang mencurigakan.
Penting juga untuk berhati-hati dalam membagikan informasi pribadi di media sosial. Data seperti nomor telepon, alamat, atau detail pekerjaan bisa dimanfaatkan pelaku untuk memperkuat aksi penipuan. Semakin sedikit informasi pribadi yang tersebar di publik, semakin kecil kemungkinan pelaku bisa meniru identitas seseorang.
Masyarakat juga perlu ikut berperan aktif dalam melaporkan akun palsu atau aktivitas mencurigakan di platform digital. Hampir semua media sosial kini menyediakan fitur pelaporan yang dapat membantu menutup akses pelaku dan mencegah korban berikutnya. Semakin cepat laporan dilakukan, semakin besar peluang menghentikan penipuan sejak dini.
Fenomena penipuan mengatasnamakan teman dan keluarga menunjukkan bahwa kejahatan digital tidak selalu datang dari orang asing. Justru, semakin akrab pelaku berpura-pura, semakin besar kemungkinan korban tertipu. Karena itu, kehati-hatian harus tetap dijaga meskipun pesan datang dari orang yang dikenal.
Dunia digital menuntut masyarakat untuk lebih cerdas dan waspada. Dengan menerapkan literasi digital yang baik, memverifikasi setiap informasi, dan menjaga keamanan akun, masyarakat dapat melindungi diri dari modus penipuan yang terus berkembang. Ingat, rasa percaya adalah celah yang paling sering dimanfaatkan penipu — jadi pastikan sebelum percaya.








