PANGANDARAN – Istilah Bhayangkara melekat pada identitas Kepolisian RI (Polri), namun asal-usulnya lebih tua dari Republik. Secara etimologis dari bahasa Sanskerta, Bhayangkara berarti penjaga, pengawal, atau pelindung. Makna ini mencerminkan fungsi utama Polri sebagai pelindung dan pengayom masyarakat.
Popularitas Bhayangkara berasal dari masa kejayaan Majapahit pada abad ke-14. Bhayangkara adalah nama kesatuan elite pengamanan kerajaan. Pasukan ini bertugas menjaga keselamatan Raja dan wilayah. Pemimpin legendaris pasukan ini adalah Gajah Mada, yang kemudian menjadi Mahapatih berpengaruh.
Di bawah Gajah Mada, kesatuan Bhayangkara dikenal tangguh dan setia. Mereka berperan sentral menjaga stabilitas dan berhasil menggagalkan berbagai upaya makar, termasuk menyelamatkan Raja Jayanegara. Kisah ini menjadikan Bhayangkara sinonim dengan kekuatan, pengabdian, dan kesetiaan tanpa batas.
Setelah kemerdekaan, Polri mengadopsi kembali istilah Bhayangkara. Pemilihan nama ini melambangkan penghormatan dan mewarisi semangat historis pasukan pengamanan Majapahit. Secara filosofis, Polri mewarisi semangat Gajah Mada dalam menjaga keutuhan wilayah dan mengabdi tanpa pamrih kepada bangsa.
Hingga kini, Bhayangkara terus digunakan dalam konteks Polri (misalnya “Mars Bhayangkara”). Penggunaan nama ini memperkuat identitas Polri sebagai lembaga yang menjamin Kamtibmas. Ini mencerminkan bahwa setiap anggota Polri adalah pelindung sejati, meneruskan warisan sejarah pengabdian bangsa sejak era Majapahit.
















