Popularitas influencer di media sosial kini memiliki pengaruh luar biasa dalam kehidupan masyarakat. Mereka bukan hanya membagikan gaya hidup, tips kecantikan, atau hiburan semata—tetapi juga mulai merekomendasikan produk hingga peluang investasi. Namun di balik pengaruh besar itu, muncul ancaman baru: penipuan berkedok promosi influencer, di mana publik figur justru ikut mengiklankan investasi bodong yang menjerumuskan ribuan pengikutnya ke dalam kerugian.
Kasus ini biasanya berawal dari kerja sama promosi antara pihak penyelenggara investasi dan influencer. Pihak penipu menawarkan kerja sama endorsement dengan imbalan besar, lalu memberikan skrip atau narasi yang harus diucapkan oleh influencer dalam bentuk video, story, atau postingan. Di hadapan kamera, si influencer terlihat meyakinkan dan penuh semangat, mengatakan bahwa mereka telah mencoba investasi tersebut dan mendapatkan keuntungan yang signifikan dalam waktu singkat.
Masalahnya, banyak dari influencer tersebut tidak benar-benar mengecek legalitas dan latar belakang perusahaan yang mereka promosikan. Ada yang bahkan tidak tahu-menahu tentang isi produk investasi tersebut. Ketika para pengikut mereka tertarik dan mulai ikut menyetorkan dana, tak sedikit yang akhirnya menjadi korban penipuan. Uang yang disetor tidak bisa ditarik, sistem investasi menghilang, dan akun media sosial pengelola mendadak lenyap dari dunia maya.
Dampaknya sangat besar. Banyak pengikut merasa ditipu secara tidak langsung oleh sosok yang mereka percaya. Tidak sedikit yang mengaku bergabung karena merasa yakin—bukan karena isi investasinya, tapi karena “influencer X saja ikut, pasti aman.” Rasa percaya ini dimanfaatkan oleh pelaku penipuan untuk memperluas jangkauan mereka, dengan harapan satu video promosi bisa menjaring ribuan calon korban dalam waktu singkat.
Parahnya lagi, beberapa influencer tetap bungkam setelah skema ini terbongkar. Mereka menghapus postingan terkait tanpa penjelasan, memblokir komentar pengikut yang bertanya, atau bahkan menyalahkan penonton karena tidak “berpikir sendiri” sebelum berinvestasi. Tindakan ini membuat publik semakin geram, karena tidak ada tanggung jawab moral yang ditunjukkan setelah banyak orang kehilangan uang.
Kasus seperti ini mencerminkan kekosongan regulasi dalam ruang digital. Di satu sisi, influencer dianggap sebagai tokoh publik yang memiliki pengaruh besar, tetapi belum semua negara memiliki aturan tegas terkait tanggung jawab hukum jika promosi mereka menyebabkan kerugian publik. Akibatnya, banyak influencer yang tetap bebas berkarya dan menerima endorsement tanpa memperhitungkan dampak dari apa yang mereka promosikan.
Masyarakat sebagai pengguna media sosial harus lebih waspada. Jangan mudah percaya pada testimoni atau promosi yang tampak meyakinkan hanya karena disampaikan oleh orang terkenal. Sebelum menyetorkan dana, selalu lakukan pengecekan terhadap perusahaan atau produk yang ditawarkan. Cari tahu apakah sudah terdaftar di OJK, apakah ada keluhan publik, dan apakah sistem bisnisnya masuk akal secara logika finansial.
Di sisi lain, influencer juga perlu memahami bahwa pengaruh mereka membawa tanggung jawab. Bukan hanya soal konten hiburan, tapi juga soal etika publik. Memverifikasi setiap produk, layanan, atau kerja sama komersial adalah hal wajib, bukan tambahan. Karena satu video yang tampak sepele bisa berdampak pada ribuan nasib pengikut yang percaya dan meniru mereka.
Fenomena ini menjadi peringatan bagi semua pihak: pengaruh digital bisa menjadi kekuatan, tapi juga bisa menjadi senjata. Di era keterbukaan informasi, tanggung jawab menyebarkan konten yang benar dan tidak menyesatkan harus dijunjung tinggi oleh siapa pun yang memiliki panggung, termasuk influencer.
















