Semangat gotong royong dan kepedulian sosial di Indonesia menjadi salah satu kekuatan terbesar masyarakat. Tidak sedikit orang yang dengan sukarela ingin bergabung menjadi relawan—entah untuk kegiatan kemanusiaan, penggalangan dana bencana, bantuan pendidikan, atau aksi sosial lainnya. Celah itulah yang kini dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan digital, dengan cara menyebarkan tautan Google Form palsu yang mengatasnamakan perekrutan relawan sosial, padahal tujuannya hanya untuk mencuri data pribadi calon korban.
Modus ini sangat sederhana, namun dampaknya bisa serius. Pelaku menyebarkan sebuah formulir pendaftaran daring, lengkap dengan logo lembaga sosial atau yayasan yang terkenal. Di dalamnya, tertulis ajakan untuk menjadi bagian dari kegiatan mulia: seperti “Relawan Pendidikan Daerah Terpencil”, “Tim Bantuan Bencana Alam”, atau “Program Donasi Makanan Gratis untuk Dhuafa”. Semua narasi dibuat menyentuh dan penuh empati.
Untuk meyakinkan, formulir tersebut menyebutkan bahwa pendaftar akan mendapatkan sertifikat, pengalaman lapangan, jaringan relawan nasional, bahkan ada yang menjanjikan uang transport atau konsumsi. Tak sedikit yang percaya, karena ajakan ini sering dibagikan oleh akun media sosial yang tampak aktif, masuk ke grup WhatsApp komunitas, atau bahkan dikirim langsung melalui pesan pribadi dari orang yang mengaku “volunteer senior”.
Formulir ini biasanya meminta data pribadi secara lengkap: nama, tanggal lahir, alamat, nomor identitas (KTP/NIK), nomor telepon, email, akun media sosial, bahkan nama ibu kandung dan nomor rekening dengan dalih verifikasi dana transportasi. Korban yang merasa ini bagian dari proses rekrutmen relawan pun mengisi semuanya tanpa curiga.
Namun setelah mengisi formulir, tak ada tindak lanjut dari “panitia”. Email balasan tidak kunjung datang, dan nomor kontak yang tertera tidak bisa dihubungi. Lambat laun, korban mulai menyadari bahwa semua informasi pribadinya sudah diberikan kepada pihak tak dikenal, dan potensi penyalahgunaannya sangat besar—mulai dari pinjaman online, pembuatan akun palsu, hingga pencurian identitas.
Penipuan model ini sangat berbahaya karena tidak meminta uang secara langsung, sehingga banyak orang tidak menyadari bahwa mereka sedang ditipu. Ketika kerugian mulai terasa, biasanya sudah terlambat: tagihan pinjol muncul, akun sosial media dibobol, atau identitas disalahgunakan untuk tindakan kriminal.
Untuk mencegah kejadian ini, penting bagi setiap individu untuk waspada terhadap formulir daring yang meminta data sensitif. Tidak semua ajakan sosial di internet bisa dipercaya begitu saja, terutama jika tidak disertai sumber resmi, nomor kontak yang bisa diverifikasi, dan struktur organisasi yang jelas. Jangan pernah memberikan nomor rekening, NIK, atau dokumen identitas tanpa kejelasan siapa yang meminta dan untuk tujuan apa.
Relawan sejati memang tidak selalu digaji, tapi bukan berarti mereka boleh diperlakukan sebagai objek manipulasi data. Lembaga sosial yang kredibel biasanya hanya meminta data secukupnya, dan akan berkomunikasi secara langsung sebelum mengajukan permintaan informasi sensitif. Selain itu, mereka memiliki situs resmi, testimoni kegiatan, serta jejak digital yang bisa ditelusuri.
Bagi komunitas digital, penting untuk saling mengingatkan dan menyaring informasi sebelum dibagikan ulang. Jangan asal meneruskan tautan Google Form hanya karena ajakannya terdengar mulia. Edukasi digital harus menjadi bagian dari budaya komunitas sosial agar semangat gotong royong tidak dirusak oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.
Kebaikan dan kepedulian harus tetap dijaga, tapi tidak dengan menutup mata terhadap ancaman baru. Di era digital ini, menjaga data pribadi adalah bagian dari menjaga martabat dan keamanan diri. Menjadi relawan itu mulia, tapi harus disertai dengan kehati-hatian agar niat baik tidak berubah menjadi awal dari masalah besar.
















