Aplikasi pesan instan seperti WhatsApp telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Namun sayangnya, popularitas aplikasi ini juga dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan untuk melakukan berbagai modus penipuan. Salah satu yang paling sering terjadi adalah modus penipu yang berpura-pura menjadi anggota keluarga, lalu meminta uang dengan alasan darurat.
Pelaku biasanya memulai aksinya dengan menggunakan nomor baru dan foto profil yang menyerupai orang terdekat korban. Mereka mengirim pesan dengan sapaan akrab, bahkan terkadang menyebut nama panggilan keluarga untuk membuat kesan bahwa mereka adalah orang yang dikenal. Setelah korban percaya, penipu langsung memancing empati dengan mengaku sedang mengalami masalah mendesak.
Alasan yang digunakan sangat beragam. Mulai dari kecelakaan, dompet tertinggal, ponsel rusak, hingga sedang berada di rumah sakit dan membutuhkan dana secepatnya. Permintaan transfer uang biasanya dilengkapi dengan nomor rekening atas nama orang lain, dengan dalih rekening utama sedang bermasalah atau tidak bisa diakses.
Modus ini cukup berhasil karena banyak orang cenderung panik ketika menerima kabar buruk dari orang yang mereka pikir adalah keluarga. Dalam kondisi seperti itu, korban sering kali tidak berpikir panjang dan langsung mentransfer sejumlah uang demi membantu.
Yang lebih mengkhawatirkan, penipu bisa mengetahui informasi pribadi korban dari media sosial. Mereka mempelajari kebiasaan, hubungan keluarga, dan peristiwa terakhir yang dibagikan secara publik. Dari situlah mereka menyusun skenario penipuan yang tampak nyata dan sulit dideteksi.
Kasus semacam ini tidak hanya terjadi pada kalangan lansia, tetapi juga pada orang-orang yang cukup melek teknologi. Ketika komunikasi hanya mengandalkan teks, tanpa verifikasi suara atau video, siapa pun bisa tertipu. Apalagi jika pelaku menyamar dengan sangat meyakinkan dan berbicara seolah-olah mereka benar-benar anggota keluarga.
Untuk menghindari penipuan ini, penting bagi masyarakat untuk selalu melakukan konfirmasi ulang. Jangan langsung percaya hanya karena foto dan gaya bicara mirip. Lakukan panggilan suara atau video untuk memastikan identitas pengirim pesan. Jika ragu, hubungi langsung nomor lama orang yang bersangkutan.
Selain itu, hindari membagikan informasi pribadi atau kondisi keluarga secara detail di media sosial. Semakin banyak informasi pribadi yang tersebar, semakin mudah pula bagi penipu untuk menyusun skenario yang meyakinkan. Jaga privasi agar tidak dimanfaatkan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.
Penipuan lewat WhatsApp mengingatkan bahwa teknologi dapat menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi memberi kemudahan, tapi di sisi lain membuka celah baru untuk kejahatan. Waspada terhadap pesan-pesan mencurigakan adalah langkah awal yang sangat penting dalam melindungi diri dan orang-orang terdekat.
Masyarakat harus lebih berhati-hati dan tidak mudah percaya pada permintaan mendadak, terutama yang berkaitan dengan uang. Konfirmasi dan verifikasi harus menjadi kebiasaan baru dalam setiap komunikasi digital, agar tidak menjadi korban berikutnya dari modus penipuan yang terus berkembang ini.
















