Acara sosial seperti penggalangan dana, bazar amal, atau kegiatan komunitas seringkali menjadi sarana positif untuk saling membantu dan berbagi. Namun, tidak sedikit oknum yang memanfaatkan momen tersebut dengan membuat undangan acara sosial palsu yang sebenarnya tidak pernah ada, dengan tujuan utama menipu masyarakat yang ingin berpartisipasi.
Modus ini biasanya dimulai dengan penyebaran undangan melalui media sosial, WhatsApp, atau grup komunitas, yang tampak resmi dan meyakinkan. Undangan tersebut sering kali mencantumkan logo lembaga sosial, tempat dan waktu acara, serta narasi ajakan yang mengundang simpati. Bahkan, pelaku kadang menyebut nama tokoh masyarakat atau aktivis terkenal untuk menambah kepercayaan.
Para calon peserta atau donatur yang tertarik kemudian diminta melakukan pendaftaran atau konfirmasi kehadiran dengan mentransfer sejumlah uang sebagai biaya administrasi, donasi, atau tanda jadi. Beberapa kasus menunjukkan bahwa pelaku juga membuka open donasi atas nama acara tersebut dengan nomor rekening pribadi.
Masalah muncul ketika hari pelaksanaan tiba, ternyata acara tidak pernah ada. Tempat yang disebutkan kosong, panitia tidak dapat dihubungi, dan akun media sosial terkait menghilang. Korban yang telah mentransfer dana pun kehilangan uang tanpa bisa menuntut kejelasan.
Penipuan seperti ini sangat merugikan karena memanfaatkan niat baik masyarakat untuk ikut serta dalam kegiatan sosial. Mereka yang terdampak biasanya merasa malu dan enggan melapor, sehingga pelaku semakin leluasa beroperasi.
Untuk mencegah hal tersebut, masyarakat perlu:
- Memastikan kebenaran acara melalui saluran resmi lembaga atau panitia yang kredibel.
- Waspada terhadap permintaan transfer uang sebagai syarat pendaftaran, apalagi jika diarahkan ke rekening pribadi.
- Bertanya dan mencari informasi dari peserta atau donatur lain yang sudah pernah terlibat.
- Melaporkan jika menemukan tanda-tanda penipuan kepada pihak berwajib.
Acara sosial adalah wadah untuk memperkuat solidaritas, bukan ladang bagi penipuan. Oleh karena itu, sikap kritis dan verifikasi informasi sangat penting agar niat baik tidak berujung pada kerugian. Dengan begitu, masyarakat bisa tetap semangat berpartisipasi dalam kegiatan sosial yang nyata dan bermanfaat.
















