Example floating
Example floating
Example 1600x495
Sosial dan UmumSPKT

Waspadai ‘Phishing’: Umpan Manis di Dunia Maya yang Bisa Menguras Rekening Anda

228
×

Waspadai ‘Phishing’: Umpan Manis di Dunia Maya yang Bisa Menguras Rekening Anda

Sebarkan artikel ini

Di tengah kemajuan teknologi digital, kejahatan siber terus beradaptasi dan berevolusi. Salah satu bentuk penipuan yang paling sering terjadi adalah phishing, yaitu upaya pelaku kejahatan untuk mencuri data pribadi melalui tautan, pesan, atau situs palsu. Modus ini kerap menyamar sebagai komunikasi resmi dari lembaga terpercaya — mulai dari bank, e-commerce, hingga instansi pemerintah.

Istilah “phishing” berasal dari kata fishing atau memancing, karena pelaku seolah-olah melempar umpan manis untuk menarik korban agar memberikan informasi penting seperti nomor rekening, PIN, kata sandi, atau kode OTP. Sekali saja korban tergoda, data pribadi bisa dicuri dan digunakan untuk transaksi ilegal tanpa sepengetahuan pemiliknya.

CALL CENTER
Example 300x600
Kapolres Pangandaran

Phishing biasanya dikirim melalui email, SMS, atau pesan aplikasi chatting. Pesan tersebut sering kali berisi peringatan darurat atau tawaran menarik, misalnya “akun Anda akan diblokir”, “menang hadiah besar”, atau “cek paket Anda sekarang”. Dalam keadaan panik atau penasaran, korban cenderung langsung mengeklik tautan yang disediakan tanpa memeriksa keasliannya terlebih dahulu.

Begitu link palsu itu dibuka, korban diarahkan ke halaman login tiruan yang tampilannya sangat mirip dengan situs resmi. Ketika korban memasukkan data pribadinya, informasi tersebut langsung tersimpan di server milik pelaku. Dalam hitungan menit, data dapat digunakan untuk mengakses akun keuangan, mencuri saldo, atau menyebarkan pesan serupa ke kontak lain.

Untuk mencegah menjadi korban phishing, pengguna internet perlu mengenali ciri-ciri pesan penipuan. Biasanya, pesan phishing mengandung kesalahan ejaan, alamat situs tidak resmi, atau menggunakan nada mendesak agar korban segera bertindak. Pengguna disarankan untuk selalu memeriksa kembali alamat pengirim dan domain situs sebelum mengisi data apa pun.

Selain itu, jangan pernah membagikan kode OTP, PIN, atau kata sandi kepada siapa pun, termasuk pihak yang mengaku dari bank atau lembaga resmi. Lembaga terpercaya tidak akan pernah meminta informasi rahasia melalui pesan atau tautan. Mengabaikan pesan mencurigakan jauh lebih aman daripada mengeklik tautan yang berpotensi mencuri data.

Langkah pencegahan lain yang efektif adalah mengaktifkan autentikasi dua faktor (2FA). Dengan sistem ini, setiap kali login akan membutuhkan konfirmasi tambahan melalui perangkat atau aplikasi lain, sehingga akun tetap aman meski data login utama bocor. Pengguna juga disarankan memperbarui sistem keamanan perangkat secara rutin agar terlindung dari malware atau spyware.

Pendidikan literasi digital juga sangat penting dalam melawan phishing. Semakin banyak masyarakat memahami cara kerja kejahatan siber, semakin kecil peluang pelaku menipu korban baru. Sekolah, komunitas, dan media perlu terus mengedukasi masyarakat agar lebih berhati-hati saat beraktivitas di dunia maya.

Phishing bukan hanya ancaman bagi individu, tetapi juga bagi perusahaan dan lembaga publik. Serangan phishing yang berhasil bisa menyebabkan kebocoran data besar-besaran dan kerugian finansial yang signifikan. Oleh karena itu, keamanan digital harus menjadi tanggung jawab bersama antara pengguna, penyedia layanan, dan pemerintah.

Dunia digital memang menawarkan kemudahan luar biasa, tetapi juga menyimpan risiko tersembunyi. Dengan mengenali tanda-tanda phishing dan bersikap waspada terhadap setiap pesan mencurigakan, masyarakat dapat melindungi diri dari ancaman siber yang mengintai setiap hari. Ingat, satu klik ceroboh bisa berakibat fatal — jadi selalu cek sebelum klik.

Example 1800x450

Komentar