Pangandaran – Kegiatan penanaman jagung hibrida dilaksanakan di lahan Non LBS milik SMP Negeri 6 Padaherang yang berlokasi di Cinangka RT 003 RW 001, Desa Panyutran, Kecamatan Padaherang, Kabupaten Pangandaran, pada Jumat (13/2/2026) mulai pukul 09.00 WIB hingga selesai. Kegiatan ini merupakan bagian dari program kokurikuler pilar ketahanan pangan yang diinisiasi oleh Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Pangandaran.
Penanaman jagung hibrida ini turut dihadiri oleh Rohimat Resdiana selaku Anggota DPRD Kabupaten Pangandaran Fraksi PDI Perjuangan, Kapolsek Padaherang, petugas Balai Penyuluhan Pertanian Kecamatan Padaherang, Kepala Desa Panyutran, Kepala Sekolah SMPN 6 Padaherang, Bhabinkamtibmas Desa Panyutran, serta para siswa dan siswi yang menjadi pengelola langsung kegiatan tersebut.
Lahan yang digunakan memiliki potensi seluas 1 hektare, dengan luas tanam saat ini mencapai 2.800 meter persegi. Bibit yang digunakan adalah jagung hibrida jenis Bisi 2 sebanyak 5 kilogram yang merupakan bantuan dari Kementerian Pertanian Republik Indonesia. Pemupukan direncanakan dilakukan sebanyak dua kali menggunakan pupuk Urea dan NPK sebanyak empat karung pupuk bersubsidi.
Berdasarkan perencanaan, masa tanam dimulai pada 13 Februari 2026 dengan perkiraan panen pada 16 Mei 2026 dan estimasi hasil panen mencapai 1 ton jagung kering. Hasil panen nantinya akan disimpan di gudang sekolah dan direncanakan penyerapan distribusinya melalui Perum Bulog sesuai Harga Pembelian Pemerintah (HPP) jagung kering, yakni Rp5.500 pada kadar air 18 persen dan Rp6.400 pada kadar air 12 persen.
Dalam pelaksanaannya, siswa-siswi SMPN 6 Padaherang dilibatkan langsung sebagai pengelola lahan, sehingga kegiatan ini tidak hanya mendukung program ketahanan pangan, tetapi juga menjadi sarana edukasi pertanian bagi pelajar. Adapun alsintan yang digunakan saat ini berupa mesin potong rumput, sementara kebutuhan alsintan yang masih diperlukan antara lain traktor roda empat (TR4) dan corn sheller.
Selama kegiatan berlangsung, situasi berjalan dengan aman, lancar, dan terkendali. Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi contoh kolaborasi antara dunia pendidikan, pemerintah, dan aparat kewilayahan dalam mendukung ketahanan pangan berbasis partisipasi pelajar.
















