
Suasana di salah satu ruang kelas SMKN 1 Cijulang tampak berbeda dari biasanya. Tidak ada guru matematika atau kejuruan yang berdiri di depan papan tulis, melainkan sejumlah personel berseragam cokelat dari Polres Pangandaran. Namun, mereka tidak sedang merazia kendaraan atau membahas tata tertib lalu lintas, melainkan sedang membedah teknologi masa depan: Artificial Intelligence (AI).
Kehadiran korps bhayangkara di sekolah kejuruan ini bukan tanpa alasan. Mereka tengah menjalankan misi penting bertajuk Training of Trainers (TOT) Paham AI, sebuah program yang diinisiasi sebagai atensi khusus dari Divhumas Mabes Polri. Di era di mana batas antara realitas dan rekayasa digital semakin bias, Polri mengambil langkah proaktif untuk turun langsung ke akar rumput.
Bagi sebagian peserta yang terdiri dari guru dan siswa, AI mungkin selama ini hanya terdengar seperti fiksi ilmiah atau sekadar alat pembuat tugas otomatis. Namun, melalui pendekatan yang interaktif, personel Polres Pangandaran membuka wawasan mereka. Peserta diajarkan bagaimana teknologi ini bekerja, serta betapa berbahayanya jika disalahgunakan oleh pihak tak bertanggung jawab untuk menciptakan hoaks atau penipuan digital.
Lebih dari sekadar sosialisasi, format TOT ini membawa beban moral yang membanggakan bagi para pesertanya. Mereka dipersiapkan untuk menjadi ‘pelatih’ baru yang akan menyebarkan pemahaman ini ke lingkungan yang lebih luas. Dari sudut ruang kelas di Cijulang, sebuah benteng pertahanan digital sedang dibangun, memastikan generasi muda Pangandaran siap menghadapi gelombang teknologi dengan kecerdasan yang sesungguhnya.









