
Perkembangan teknologi Kecerdasan Buatan (AI) bagai pedang bermata dua; di satu sisi mempercepat inovasi, namun di sisi lain menjadi medium baru bagi kejahatan siber dan misinformasi. Merespons pergeseran lanskap ancaman ini, Divhumas Mabes Polri menginstruksikan jajarannya di daerah untuk bergerak cepat. Salah satu wujud konkret dari atensi tersebut adalah pelaksanaan Training of Trainers (TOT) Paham AI oleh Polres Pangandaran di SMKN 1 Cijulang.
Langkah Divhumas Polri menjadikan literasi AI sebagai agenda nasional menunjukkan adanya pergeseran paradigma dalam menjaga Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Kamtibmas). Kejahatan kini tidak lagi hanya terjadi di jalanan, tetapi juga di ruang digital melalui manipulasi algoritma. Melalui jajaran Polres Pangandaran, materi yang bersifat teknis dan rumit diterjemahkan menjadi modul yang mudah dipahami oleh kalangan akademis tingkat menengah.
Pemilihan metode Training of Trainers (TOT) di SMKN 1 Cijulang merupakan langkah taktis yang terukur. Alih-alih melakukan sosialisasi satu arah yang dampaknya terbatas, polisi mencetak “instruktur-instruktur” baru dari kalangan guru dan siswa berprestasi. Efek bola salju (snowball effect) inilah yang menjadi target utama; di mana satu peserta TOT diharapkan dapat mentransfer ilmunya kepada puluhan siswa lain di sekolah tersebut.
Ke depannya, inisiatif yang dilakukan oleh Polres Pangandaran ini diproyeksikan menjadi cetak biru bagi penanganan kejahatan siber preventif. Dengan membekali para siswa SMKN 1 Cijulang kemampuan analitis terhadap produk AI, Polri tidak hanya sedang mencegah penyebaran hoaks, tetapi juga sedang membangun ekosistem masyarakat informasi yang kritis, tangguh, dan adaptif terhadap disrupsi teknologi di masa depan.









